Dody Hanggodo Menteri PU Akui Ada Kelalaian Penanganan Banjir dari Pihaknya.

refubliknews.com,- Tapteng. Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo mengakui penanganan banjir di Kelurahan Sipange, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) ada kelalaian dari pihaknya.

Hal itu disampaikannya saat meninjau lokasi banjir dan pengerjaan tanggul sementara Aek Silaga-laga di Kelurahan Sipange serta peninjauan proyek pengendali banjir di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Rabu (29/7/2026).

Dalam peninjauan tersebut turut dihadiri Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Brigjen TNI Fadjar Tjahjono bersama Komandan Korem (Danrem) 023/KS Kolonel Inf Iwan Budiarso, dan Bupati Tapteng Masinton Pasaribu.

“Sebetulnya sungai ini kan punya Kabupaten, Aek Silaga-laga yang merupakan kewenangan Propinsi. Jadi memang kita ya salah. Kita dari awal tidak pernah mengidentifikasi itu sebagai satu masalah,” ujarnya.

Menurut Dody, selama ini Kementerian PU hanya fokus dalam penanganan banjir di Hutanabolon dengan mengalokasikan proyek nasional pengerjaan pengendali banjir.

Pihaknya baru mengetahui bahwa pada Sabtu tanggal 18 Juli 2026 telah terjadi banjir parah yang justru lebih besar dari kejadian bencana banjir dan longsor pada 25 Nopember 2026 di Kelurahan Sipange.

“Setelah itu kemarin ada banjir dilaporkan oleh Kepala Balai, saya bilang ya udah, kerjakan saja,” katanya.

Dodi menilai khusus dalam penanganan banjir di Kelurahan Sipange, sebelumnya memang harus ada diskusi langsung dari Menteri karena itu bukan kewenangan nasional.

“Jadi sekarang kita mau mulai kerja disini, sudah dibuka tuh saluran air sama teman-teman. Nanti ini yang bapak injak ini, kita akan tinggikan supaya gorong-gorongnya lebih besar,” ucapnya saat diwawancarai koresponden Mistar.

Dody memastikan pengerjaan penanganan banjir di Kelurahan Sipange akan sama dengan pengerjaan penanganan banjir di Kelurahan Hutanabolon yang gorong-gorongnya dibuat lebih besar.

“Kalau gorong-gorongnya besar sehingga kalau air turun dari sana, bisa lebih lancar masuk ke Sungai si laga-laga dan Sungai Sigala-gala,” katanya.

Saat ditanya terkait pembangunan tanggul dan Sabo Dam di Hutanabolon yang dinilai masyarakat pengerjaannya terkesan lambat, Dody mengatakan bahwa itu adalah karena faktor alam.

“Sebenarnya bukan lambat, karena kita bikin sementara, terus hujan turun lagi, banjir turun lagi, disapu lagi,” ujarnya.

Dody mengaku sudah memerintahkan jajarannya untuk mendesak pihak pelaksana PT Wika agar mempercepat pengerjaan proyek pengendali banjir di Hutanabolon.

“Jadi tadi saya minta yang dipercepat itu pekerjaan Sabo Dam saja. Kalau kemudian banjir lagi, misalnya banjir lagi, yang keluar itu air. Kalau air kan masih oke lah, namun kalau lumpur-lumpur akan lebih parah,” tuturnya.

Ia menambahkan, pihaknya juga sudah turut mengerjakan sebagian diluar area pekerjaan kementerian PU, namun tetap saja yang dikerjakan itu hancur karena faktor alam yakni tantangan hujan.

“Hari ini saja mau masih hujan ini, masih mendung. Jadi memang faktor alam sangat susah bisa kita kontrol, tapi tetap kita akan fokus dalam penanganan banjir ini,” pungkasnya.


RN/ Sefri F.Siahaan /red

Pos terkait