Yabumi Aceh Mendukung Pemerintah Melestarikan Habitat Gajah Guna Mencegah Konflik Gajah dengan Manusia

refubliknews.com,
Aceh — Menyikapi maraknya konflik gajah dengan manusia khususnya di wilayah Provinsi Aceh, Yayasan Bumiku Hijau (Yabumi) selaku kelompok pemerhati lingkungan hidup menyelenggarakan forum diskusi bertajuk “gajah vs manusia, sampai kapan? Melindungi TNGL guna keberlangsungan satwa liar”. Kegiatan yang digelar di Kota Banda Aceh itu diikuti sekitar 50 orang dengan narasumber: Diyus Hanafi (Kord. Advokasi Yabumi), Chik Rini (Co-Founder Forest Wildlife Society) dan Danurfan (Owner Leuser Coffee) di Banda Aceh, Senin, (25/7/2022).

Direktur Yabumi, Nurjanah Husein mengatakan Yabumi secara konsisten siap mendukung pemerintah melakukan langkah-langkah komprehensif dalam menjaga kelestarian kawasan hutan sebagai habitat alami gajah guna mencegah berulangnya konflik antara gajah dengan manusia.

Dalam kesempatan tersebut, Kord. Advokasi Yabumi, Diyus Hanafi menyampaikan bahwa gajah adalah wakil dari problema lingkungan. Gajah mewakili alam dalam merasakan derita kerusakan lingkungan. Asal mula konflik gajah vs manusia akibat kebutuhan ekonomi manusia yang semakin meningkat. Advokasi terhadap satwa perlahan digerus oleh pemberitaan di media yang tidak peka terhadap permasalahan satwa. Pemerintah diharapkan open terhadap isu-isu satwa liar dan dilindungi. Di samping itu masyarakat harus mampu berpartisipasi dalam perumusan naskah perudang-undangan sehingga redaksional yang tidak berpihak kepada aspek perlindungan lingkungan hidup dapat dieliminir.

Co Founder Forest Wildlife Society, Chik Rini mengatakan berkurangnya kawasan hutan, akibat maraknya pembalakan liar dan alih fungsi lahan oleh perusahaan perkebunan sawit, merupakan penyebab utama berkurangnya populasi gajah sumatera. Hilangnya populasi gajah Sumatera di Aceh sudah terjadi sejak tahun 1990-an dan jumlahnya saat ini diperkirakan hanya tinggal 500 ekor.

Gajah sebagai hewan penjelajah mampu menempuh perjalanan ratusan Kilometer. Kondisi sekarang banyak ditemukan jalur-jalur jelajah gajah yang sudah beralih fungsi, sehingga menyebabkan gajah keluar dari habitatnya untuk mencoba bertahan hidup. Kalau Aceh tidak bisa menyelamatkan hutannya sebagai habitat asli gajah maka kita akan menyusul daerah lain yang menjadi kantong-kantong gajah mengarah kepunahan.

“Mengharapkan seluruh pihak dapat berperan aktif memulihkan kembali jalur jelajah gajah tersebut. Pemerintah pusat dan daerah juga harus memiliki mainset yang sama dalam mendukung upaya pelestarian habitat gajah dengan cara memperketat pemberian izin perkebunan sawit khususnya yang bersinggungan langsung dengan habitat gajah” ujarnya.

Danurfan menambahkan bahwa hampir 80 persen gajah berada di luar kawasan konservasi dan pasti terjadi konflik dengan manusia. Solusinya kembalikan ke habitat aslinya yang disambung dengan barier alami. Kalau habitatnya terjaga maka secara otomatis kelestarian gajah juga terjaga dan konflik dengan manusia dapat dihindari. Gajah dan manusia sebetulnya dapat hidup dengan berbagi ruang.

Untuk mencegah konflik gajah dengan manusia, kita bisa berkebun dengan tanaman produktif yang tidak disukai gajah tapi mendukung perekonomian masyarakat misalnya lemon dan kopi.

Semua pihak bisa berpartisipasi membantu pemerintah melestarikan habitat gajah dengan caranya masing-masing, misal melalui media lukisan, karya tulis, video maupun bernyanyi, tutupnya

RN/yanto/red

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *