Razia Berujung Trauma, 18 Siswi SMKN 2 Garut Jadi Korban Cukur Paksa Oknum Guru

refubliknews.com – Garut || Dunia pendidikan di Kabupaten Garut tengah menjadi sorotan publik setelah beredarnya video sejumlah siswi SMKN 2 Garut menangis histeris usai diduga menjadi korban pemotongan rambut secara paksa oleh oknum guru saat razia kedisiplinan, Kamis 30/4/2026. Video tersebut viral di media sosial dan memicu beragam reaksi. Dalam rekaman yang beredar, para siswi berjilbab terlihat menangis dan mengaku trauma karena rambut mereka dipotong sangat pendek hingga menyerupai potongan rambut laki-laki.

Peristiwa bermula ketika pihak sekolah menggelar razia rambut terhadap siswa. Namun, tindakan oknum guru Bimbingan Konseling menuai kecaman setelah dinilai berlebihan. Salah satu siswi korban mengaku terpukul dan kehilangan rasa percaya diri untuk kembali ke sekolah. “Seharusnya guru mendidik dan memberikan contoh yang baik, bukan mempermalukan murid seperti ini. Kami jadi takut dan malu untuk masuk sekolah lagi,” ungkapnya dengan terisak. Reaksi keras juga datang dari orang tua murid yang menolak penyelesaian damai dan mendesak agar oknum guru yang terlibat segera dimutasi. “Kami tidak terima dengan perlakuan yang dianggap tidak manusiawi ini. Jika tuntutan kami tidak dipenuhi, maka kasus ini akan dibawa ke jalur hukum,” ujar salah satu perwakilan orang tua.

Kang Dedi Mulyadi turut merespons cepat polemik tersebut. Sebagai bentuk dukungan moral, ia memfasilitasi 18 siswi korban cukur paksa untuk mendapat perawatan dan perapihan rambut di salon kecantikan. Dedi meminta para siswi tidak terus menyimpan kebencian terhadap guru, namun mengingatkan sekolah bahwa disiplin harus edukatif. “Saya minta anak-anak tidak terus membenci gurunya. Tetapi sekolah juga harus memahami bahwa disiplin harus bersifat mendidik, bukan traumatis,” ujarnya.

KPAI turut memberi perhatian serius dan menilai tindakan pendisiplinan tidak boleh melanggar hak anak maupun berdampak psikologis. KPAI meminta Disdik Jabar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pendisiplinan di sekolah agar kejadian serupa tidak terulang. Hingga kini, pihak SMKN 2 Garut disebut masih koordinasi internal bersama Disdik Jabar guna menindaklanjuti tuntutan orang tua serta memastikan KBM tetap kondusif.

RN/Raffa Christ Manalu/red

Pos terkait