Hajatan Sawah Besar dengan Tema ” Kuliner dan Non Kuliner

refubliknews.com,
Jakarta,-
Telah dilaksanakan Bazar hajatan Sawah Besar dengan tema ” Kuliner dan Non Kuliner
Acara ini dimulai dari tanggal 23-24-7-2022.berlangsung di Jalan.Lautze.Kelurahan Pasar Baru.Kecamatan Sawah Besar.Jakarta pusat Sabtu (22-7-2022).

Kolaborasi berbagai etnis terutama etnis budaya betawi yang kental serta pagelaran Seni dan Kuliner dengan tujuan untuk menyatukan multi antar semua etnis.Dimana saat ini antara etnis satu dengan etnis yang lainnya selalu mempermasalahkan perihal perbedaaan keyakinan,budaya dan juga seni budaya.
KH.Sa’adih datang selaku undangan dan tamu kehormatan di acara hajatan di mesjid Lautze Sawah besar Jakarta pusat.

Dalam kesempatan itu KH.Sa’adih Al Batawi meluangkan waktu untuk memberikan tausiyah kepada hadirin juga tamu undangan serta menyantuni anak-anak yatim juga memberikan bantuan untuk perbaikan atap atap mesjid Lautze yang mulai rapuh,di sela wawancara dengan awak media Kh.Sa’adih ingin mempertanyakan dan mengetahui apakah para etnis ini masih berbicara tentang ideologi Pancasila atau tidak.”tanya KH.Sa’adih.

” KH sa,adih mempersilahkan untuk berbudaya,silahkan beragama,tapi jangan sampai melupakan budaya sendiri, kita
Jangan pernah bilang untuk menyatukan etnis,tapi tidak faham apa yang namanya ketuhanan yang maha esa.”Jelas KH.Sa’adih.

“Saya berharap dalam menyatukan etnis,mari kita bangun kebersamaan,jangan sampai sebagai manusia lupa akan Tuhannya.Para etnis – etnis harus memakai konsep ideologi Pancasila.”tandas KH.Sa’adih.

Semua budaya kembali ke ketuhanan yang maha esa.mari kita membangun ahlak serta adab Kalau mau negara ini makmur sejahtera, angkat budaya yang sudah diwariskan oleh para pendiri negeri ini.Utamakan adab,Warganya punya adab kepada pemimpinnya,Rakyat harus adab terhadap pemerintahannya,yang muda adab kepada yang tua,murid kepada gurunya.Karena menurut Kh.Sa’adih NKRI konsepnya ideologi Pancasila.Jangan sedikit – sedikit ada acara nikahan memakai adat Betawi dibilang hoax,tahlilan dibilang bid’ah,acara Maulid Nabi Muhammad Saw dibilang bid’ah.Nah untuk apa bicara tentang etnis,sedangkan arti ketuhanan yang maha esa saja tidak faham.”jelas KH.Sa’adih.

Makanya KH.Sa’adih mengajak kepada seluruh etnis yang ada di negeri ini untuk saling membuktikan Tuhannya masing – masing.Jangan bicara budaya adat tapi tidak faham tauhid yaitu Lailaha Illallah Muhammad Rosulullah”tutur KH.Sa’adih mengakhiri.

RN/Umayah Handayani/red

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *