refubliknews.com – Purwakarta || Pemerintah Kabupaten Purwakarta resmi memulai seluruh rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Purwakarta ke-195 dan Kabupaten Purwakarta ke-58 Tahun 2026. Pembukaan ditandai dengan tradisi Mitembeyan yang berpusat di Masjid Agung Syekh Baing Yusuf. Kegiatan berlangsung khidmat dengan lantunan selawat, zikir, doa bersama, serta ziarah ke makam ulama besar Purwakarta, Syekh Baing Yusuf.
Usai Mitembeyan, prosesi adat dilanjutkan dengan ritual “Muru Indung Cai” atau Menuju Sumber Air. Pengambilan air dilakukan dari Situ Buleud menuju Sumber Mata Air Cibulakan. Prosesi budaya ini diikuti jajaran Forkopimda, ASN, camat, kepala desa, tokoh adat, dan perwakilan masyarakat dari berbagai lapisan. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap sumber kehidupan yang ada di Purwakarta.
Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein menegaskan Muru Indung Cai bukan sekadar seremonial tahunan. Ia menyebut tradisi ini harus jadi refleksi untuk menjaga kelestarian lingkungan. “Air bisa tetap ada meskipun kita tidak ada, tetapi kita tidak akan bisa ada tanpa air. Bumi ini, salah satu tuan rumah utamanya adalah air. Dari total air di dunia, 97 persen ada di laut, 2 persen membeku, dan yang kita gunakan sehari-hari hanya 1 persen. Termasuk yang ada di Cibulakan,” ujar Bupati yang akrab disapa Om Zein.
Bupati juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan alam sesuai ajaran leluhur. Menurutnya pembangunan infrastruktur megah akan sia-sia jika sumber daya air dan alam dirusak. “Mengapa setiap tahun kita laksanakan Muru Indung Cai? Supaya mata air kita tetap dijaga, jangan dirusak. Kuncinya, hutan harus tetap ada, tebing harus tetap ditanami bambu. Jika hutan dirusak, hidup kita akan sengsara,” tambahnya. Melalui momentum HUT tahun ini, Pemkab mengajak masyarakat kembali pada kearifan lokal demi keberlangsungan generasi masa depan.
RN/Raffa Christ Manalu/red






