refubliknews.com ||Jakarta – PT Pegadaian Kantor Wilayah VIII Jakarta 1 terus memperkuat komitmennya dalam mendorong inklusi keuangan yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pelatihan Literasi Keuangan bersama Yayasan Pemberdayaan Tuli Buta Indonesia (Yayasan Pelita) yang digelar di Lantai 3 Ballroom Samanvaya, Gedung PT Pegadaian Kantor Wilayah VIII Jakarta 1, Rabu (12/8).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Pegadaian untuk memperluas akses terhadap informasi dan edukasi keuangan bagi penyandang tuli-buta, yang selama ini masih menghadapi keterbatasan dalam memperoleh informasi mengenai produk dan layanan keuangan secara mudah, setara, dan aksesibel.
Hadir dalam kegiatan tersebut Deputy Operasional PT Pegadaian Kanwil VIII Jakarta 1 Prabowo Jadi Subroto, Kepala Departemen SDM, Kepala Bagian TJSL, Pemimpin Cabang Pasar Senen, serta para penyandang disabilitas tuli dan buta yang mengikuti kegiatan dengan didampingi oleh juru bahasa isyarat, juru bahasa tulis, dan juru bahasa sentuh.
Deputy Operasional PT Pegadaian Kanwil VIII Jakarta 1, Prabowo Jadi Subroto, menyampaikan bahwa literasi keuangan merupakan hak setiap masyarakat dan perlu disampaikan dengan metode yang dapat menjangkau seluruh kelompok, termasuk penyandang disabilitas.
“Pegadaian ingin memastikan bahwa edukasi dan informasi mengenai keuangan dapat diterima oleh seluruh masyarakat tanpa terkecuali. Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya berbagi pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan, tetapi juga membuka ruang interaksi agar teman-teman penyandang tuli-buta dapat lebih memahami dan memanfaatkan layanan keuangan secara mandiri,” ujar Prabowo.
Dalam kegiatan tersebut, Pegadaian memberikan pemaparan mengenai pentingnya mengelola keuangan secara bijak, termasuk memperkenalkan Tabungan Emas dan investasi emas sebagai salah satu alternatif untuk membangun kebiasaan menabung dan mempersiapkan kebutuhan finansial di masa depan.
Edukasi disampaikan dengan pendekatan yang inklusif. Para peserta mendapatkan pendampingan dari juru bahasa sentuh, juru bahasa tulis, dan juru bahasa isyarat yang membantu memastikan setiap informasi dapat dipahami dengan baik. Pendekatan tersebut membuat proses pelatihan berlangsung secara interaktif sekaligus memberikan pengalaman belajar yang lebih nyaman bagi peserta.
Kegiatan bersama Yayasan Pelita juga menjadi momentum bagi Pegadaian untuk meningkatkan kesadaran bahwa inklusi keuangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan produk dan layanan, tetapi juga mengenai kemudahan akses terhadap informasi, edukasi, serta kesempatan yang setara bagi setiap individu.
Melalui kegiatan ini, Pegadaian berharap semakin banyak penyandang disabilitas yang memiliki pemahaman mengenai pengelolaan keuangan dan mampu mengambil keputusan finansial secara lebih mandiri. Upaya tersebut sejalan dengan komitmen Pegadaian untuk terus menghadirkan layanan keuangan yang inklusif sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Bagi Pegadaian, inklusi berarti tidak boleh ada masyarakat yang tertinggal hanya karena adanya keterbatasan dalam mengakses informasi. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dikembangkan sehingga literasi keuangan dapat menjadi bekal bagi teman-teman penyandang disabilitas untuk semakin mandiri dan berdaya,” tutup Prabowo.
RN/Indah/red






