refubliknews.com, || USA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia meminta agar tarif resiprokal 0 persen yang telah diberikan Amerika Serikat (AS) tidak berubah, meskipun pemerintah AS menetapkan tarif baru sebesar 10 persen bagi seluruh negara.
Airlangga mengatakan, pemerintah telah berkoordinasi dengan Office of the United States Trade Representative (USTR). Hasilnya, pihak AS menyampaikan akan ada keputusan kabinet terhadap negara-negara yang telah menandatangani perjanjian.
“Alhamdulillah, kemarin Indonesia sudah menandatangani perjanjian, dan yang diminta oleh Indonesia adalah kalau yang lain semua berlaku 10 persen, tetapi yang sudah diberikan 0 persen itu kita minta tetap,” ujar Airlangga di Washington DC, Amerika Serikat, Sabtu (21/2/2026) pagi waktu setempat.
Menurut Airlangga, sebagian fasilitas tarif 0 persen untuk produk pertanian telah diatur dalam executive order tersendiri, sehingga tidak termasuk yang dibatalkan. Adapun komoditas tersebut antara lain kopi, kakao, dan sejumlah produk agrikultur lainnya.
Selain sektor pertanian, Indonesia juga meminta agar tarif 0 persen tetap berlaku untuk produk yang terkait rantai pasok (supply chain) elektronik, crude palm oil (CPO), tekstil, hingga alas kaki. Namun, kepastian mengenai hal tersebut masih menunggu waktu hingga 60 hari sejak penandatanganan kesepakatan.
Menanggapi adanya anggapan bahwa Indonesia akan diperlakukan sama dengan negara lain yang dikenakan tarif 10 persen, Airlangga menegaskan tidak seluruh produk terdampak kebijakan tersebut.
“Kita ada yang 10 persen, tetapi ada yang kita sedang bicarakan. Yang sudah diputus nol, supaya tetap nol,” kata Airlangga.
Terkait tarif produk AS yang masuk ke Indonesia, Airlangga menyebut skema yang berlaku saat ini masih berjalan seperti sebelumnya hingga implementasi kesepakatan tarif timbal balik (agreement on reciprocal tariff).
Ia mencontohkan, komoditas gandum (wheat) dari AS sudah dikenakan tarif 0 persen. Selain itu, kedelai (soy bean) dan sejumlah produk lain dikenakan tarif sekitar 5 persen.
“Kan kemarin ada yang sudah nol, kayak wheat itu sudah nol. Kemudian ada soy bean dan yang lain, ada yang 5 persen. Kalau itu masih tetap seperti itu, sampai dengan implementasi daripada agreement on reciprocal tariff,” jelasnya.
RN/Gusdin /red






