refubliknews.com, Bandung | Pemerintah Provinsi Jawa Barat, melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) terus berusaha memperkuat literasi digital masyarakat sebagai respon cepat untuk menjawab tantangan perang siber di media sosial.
Perang siber (Cyber War) yang bersifat sosial, seperti penyebaran berita bohong (Hoaks) dan ujaran kebencian dimedia sosial merupakan salah satu ancaman serius pada Pemilu 2024.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadiskominfo) Jawa Barat, Ika Mardiah mengatakan, penguatan literasi digital, khususnya terkait antisipasi perang siber merupakan hal krusial yang perlu dilakukan. Terlebih, sebagian besar masyarakat Indonesia terutama di Jawa Barat, merupakan pengguna aktif media sosial.
Berdasarkan laporan We Are Social, pada Januari 2023, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia mencapai 167 juta, atau sekitar 60,4 persen penduduk indonesia merupakan pengguna aktif media sosial.
“Oleh sebab itu, dalam menghadapi Pemilu 2024, penting bagi pemerintah, lembaga pemilihan, partai politik dan masyarakat umum, khususnya netizen untuk meningkatkan kesadaran terhadap ancaman perang siber dimedia sosial, guna memastikan Pemilu yang jujur, adil, bersih dan kredibel,” kata Ika Mardiah dalam IKP Talks bertajuk “Perang Siber di Media Sosial: Tantangan dan Solusi Pada Pemilu 2024” di Kampus Universitas Islam Bandung, dikutip dari laman Humas Jabar, pada Sabtu 27 Januari 2024.
Ia menjelaskan, IKP Talks kali ini merupakan kolaborasi Diskominfo Jawa Barat dengan Universitas Islam Bandung. Sejumlah narasumber dari berbagai pihak dihadirkan seperti, Dekan FIKOM Unisba, Atie Rachmiatie, Guru Besar Komunikasi Politik, Karim Suryadi, Direktur Ditreskrimsus Polda Jawa Barat, Kombes Pol Deni Okvianto dan Anggota Bawaslu Provinsi Jawa Barat, Nuryamah.
IKP Talks kali ini, lanjut Ika, bertujuan untuk memperkuat kapasitas dan kapabilitas kita dalam menjawab tantangan sekaligus merancang solusi dalam merespon Perang Siber (Cyber War) dimedia sosial.
“Ini menjadi topik penting bagi para mahasiswa maupun Generasi Z yang merupakan pemilih pemula dalam Pemilu 2024. Semoga materi yang disampaikan dapat menjawab tantangan sekaligus mencari solusi terkait perang siber dimedia sosial,” jelasnya.
Ika juga menuturkan, bahwa pihaknya melalui Jabar Saber Hoaks (JSH) intens mengklarifikasi hoaks-hoaks yang beredar ditengah masyarakat. Hasil klarifikasi tersebut di tayangkan di berbagai platform media sosial.
“Tiap hari selalu ada klarifikasi terhadap berita-berita hoaks. Meskipun sebenarnya sekarang agak menurun jumlahnya dibanding 2019 lalu, mungkin warga masyarakat kita juga sudah mulai paham, cerdas, aware dan bisa melakukan klarifikasi sendiri juga. Karena kami juga terus menerus melakukan literasi digital ke sekolah-sekolah, perguruan tinggi dan masyarakat umum,” tuturnya.
“Kalau untuk website, kami tentunya dari sisi infrastruktur, jaringan, aplikasinya juga harus kami perkuat dari sisi teknologinya. Kemudian, kami juga memiliki tim respons cepat untuk insiden keamanan informasi sudah jalan,” tambahnya.
RN/raffa christ manalu/red






