refubliknews.com, || TAPANULI TENGAH- Pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah pada 25 November 2025, Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) menggencarkan upaya pencegahan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di seluruh wilayah.
Langkah ini dilakukan menyusul masih ditemukannya genangan air serta saluran drainase yang belum sepenuhnya pulih, yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti sebagai pembawa virus DBD.Kepala Dinas Kesehatan Tapteng, Lisnawati Panjaitan, Rabu (22/4/2026), mengatakan pihaknya bersama jajaran dan 25 Puskesmas telah melakukan penanganan sejak dini pascabencana.
Upaya tersebut meliputi pengasapan (fogging), penaburan bubuk abate, serta sosialisasi langsung kepada masyarakat di wilayah terdampak.“Fogging dan penaburan abate kami lakukan secara masif sebagai langkah proaktif untuk melindungi masyarakat dari ancaman DBD, khususnya di daerah yang masih memiliki genangan air,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan pencegahan difokuskan di 20 kecamatan se-Tapteng, dengan prioritas wilayah rawan seperti Kecamatan Pandan, Tukka, Badiri, dan Pinangsori yang memiliki tingkat risiko tinggi terhadap perkembangbiakan nyamuk.Selain itu, Dinas Kesehatan juga mengerahkan Tim Gerak Cepat untuk melakukan penyelidikan epidemiologi (PE), fogging fokus, serta edukasi langsung ke masyarakat.
Penguatan juga dilakukan pada aspek deteksi dini di fasilitas pelayanan kesehatan, komando data terpusat, hingga penegakan disiplin di tingkat desa.Lisnawati menegaskan, penanganan DBD tidak bisa hanya mengandalkan fogging semata. Upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) menjadi kunci utama, termasuk mempercepat penemuan kasus, penanganan pasien, serta mendorong keterlibatan aktif masyarakat.
“DBD tidak bisa selesai hanya dengan fogging. Yang paling penting adalah menghancurkan jentik dan menggerakkan masyarakat agar benar-benar terlibat, bukan sekadar imbauan,” tegasnya.
Dinas Kesehatan juga terus mengedukasi masyarakat melalui gerakan 3M, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta mengubur barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.Di sisi lain, seluruh fasilitas kesehatan di Tapteng dipastikan tetap siaga. Tenaga medis disiagakan untuk melakukan pemantauan, pemeriksaan dini, hingga penanganan cepat bagi warga yang menunjukkan gejala DBD. Layanan kesehatan keliling juga dioptimalkan guna menjangkau daerah terdampak yang sulit diakses.
“Sejak bencana, kami berkomitmen memberikan pelayanan maksimal, baik dalam pengobatan maupun pencegahan. Upaya preventif menjadi prioritas agar kasus tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa,” tambahnya.
Melalui sinergi antara Dinas Kesehatan, pemerintah kecamatan, kelurahan, dan dukungan masyarakat, sistem kesehatan di Tapanuli Tengah diharapkan semakin tangguh dalam menghadapi ancaman penyakit pascabencana serta menjaga keselamatan dan kualitas hidup masyarakat.
RN/Sefri Fernando Siahaan/red






