Profil Joanita Meroline Wenji, Istri Kamaruddin Simanjuntak yang Setia Mendampingi hingga Akhir Hayat

refubliknews.com – Jakarta || Duka mendalam menyelimuti Joanita Meroline Wenji setelah suaminya, pengacara ternama Kamaruddin Simanjuntak, meninggal dunia pada Senin (19/10/2026) dini hari. Kamaruddin dikenal luas sebagai mantan pengacara keluarga almarhum Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

Di tengah kehilangan tersebut, Joanita mengenang perjuangannya mendampingi sang suami yang mengalami penurunan kondisi kesehatan selama beberapa tahun terakhir.

Ia mengaku terus berdoa agar Kamaruddin diberi kekuatan untuk bertahan dan melewati berbagai momen penting bersama keluarga.
Kini, Joanita harus melanjutkan kehidupan bersama kelima anaknya setelah kehilangan sosok suami yang selama ini mendampinginya.

Lantas, siapa sebenarnya Joanita Meroline Wenji? Profil Joanita Meroline Wenji

Dikutip dari akun Facebook Joanita Meroline Wenji, SH (JMW), Joanita merupakan perempuan asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ia diketahui memiliki usaha di bidang perjalanan melalui perusahaan bernama JMW Gemilang Nusantara Travelindo. Joanita merupakan alumnus SMA Negeri 58 Jakarta dan melanjutkan pendidikan di Universitas Kristen Indonesia (UKI).

Pernikahannya dengan Kamaruddin Simanjuntak dikaruniai lima orang anak, yaitu:

Alexandrya Christina Josephine Simanjuntak.

Valencia Brightlady Victoria Simanjuntak.

Julietta Madelaine Rose Simanjuntak.

Angelique Sharon Simanjuntak.

Lawrencia Lamtiur Marsinondang Simanjuntak.

Joanita Ungkap Kondisi Kamaruddin Sebelum Meninggal

Di balik perjuangan Kamaruddin menghadapi penyakitnya, tersimpan kisah haru tentang doa dan harapan Joanita agar sang suami dapat terus bertahan.
Joanita mengungkapkan, kondisi kesehatan Kamaruddin mulai sering menurun sejak Februari 2026. Saat itu, suaminya sudah berulang kali keluar masuk rumah sakit.

Ia masih mengingat ketika Kamaruddin pulang dari kampus menggunakan kursi roda. Melihat kondisi suaminya yang semakin lemah, Joanita hanya bisa berdoa agar Kamaruddin diberi kesempatan untuk bertahan hingga hari jadi pernikahan mereka pada 18 Maret.

“Waktu Februari itu dia pulang dari kampus, masuk pakai kursi roda. Saya cuma berdoa, ‘Tuhan, karena dia sudah lemah banget, saya minta satu bulan sampai anniversary kami tanggal 18 (Maret).’ Dikasih sama Tuhan lewat,” kenang Joanita di Rumah Duka Ukrida, Senin (19/10/2026).

Setelah melewati momen tersebut, Joanita kembali berdoa agar suaminya diberi kekuatan untuk menjalani hari-hari berikutnya, termasuk melewati Paskah pada April dan ulang tahun Kamaruddin pada 21 Mei.

Sempat Membaik, Kamaruddin Kembali Dirawat

Setelah melalui masa-masa sulit, kondisi Kamaruddin sempat relatif stabil selama Mei, Juni, dan Juli 2026. Menurut Joanita, pada periode tersebut suaminya tidak perlu kembali menjalani perawatan di rumah sakit.
Namun, kondisi itu tidak bertahan lama.

Pada akhir Juli, Kamaruddin kembali harus menjalani perawatan medis.
Joanita pun kembali menyimpan harapan agar suaminya bisa pulih, terlebih menjelang hari ulang tahunnya pada Agustus.

“Saya berdoa lagi minta hadiah ulang tahun saya di bulan Agustus dia sembuh. Ternyata tanggal 25 masuk rumah sakit, jadi saya ulang tahun di rumah sakit,” tutur Joanita.

Harapan untuk merayakan ulang tahun bersama dalam kondisi sehat harus tertunda karena Kamaruddin masih membutuhkan penanganan medis.

Joanita juga mengungkapkan bahwa suaminya telah menjalani cuci darah secara rutin selama sekitar dua tahun terakhir. Padatnya aktivitas sebagai pengacara, menurut dia, membuat Kamaruddin kerap kekurangan waktu istirahat.

“Untuk sebelumnya memang sudah dua tahun mulai cuci darah. Karena terlalu lelah ya, hampir enggak istirahat dia. Kalau bela klien itu benar-benar hari Minggu pun dia kerja,” kata Joanita.

Kondisi Kamaruddin Kembali Menurun di Rumah Sakit

Setelah menjalani perawatan hingga pertengahan September, Kamaruddin sempat beristirahat di rumah selama sekitar dua minggu.
Namun, pada akhir pekan berikutnya, kondisinya kembali mengharuskan ia mendapatkan penanganan medis. Kamaruddin dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD).

Joanita mengatakan, saat itu suaminya tidak mengeluhkan rasa sakit dan masih terlihat segar. Kondisi tersebut membuatnya tidak menyangka keadaan Kamaruddin akan kembali memburuk.

“Dia enggak ada keluhan sih. Kalau ditanya ‘Sakit enggak?’, jawabnya ‘Enggak’. Mukanya segar, makanya enggak ada keluhan,” ujarnya.

Setelah mendapatkan penanganan di IGD, Kamaruddin dipindahkan ke ruang rawat inap ketika kondisinya dinilai membaik.
Namun, tidak lama kemudian, Joanita melihat perubahan pada kondisi suaminya.

Ia mendengar suara napas seperti orang mengorok dan sempat meminta Kamaruddin membatukkan sesuatu yang diduga dahak.
Karena Kamaruddin tidak mampu melakukannya, Joanita memanggil perawat untuk memeriksa saturasi oksigen suaminya.

Hasil pemeriksaan menunjukkan saturasi oksigen Kamaruddin terus menurun. Tim medis kemudian melakukan upaya resusitasi untuk menyelamatkan nyawanya.
“Mulai dari situ sudah turun, turun, turun. Barulah dipompa sampai jam 02.47, dia sudah enggak ada,” ungkap Joanita.

Kamaruddin Simanjuntak akhirnya meninggal dunia di RS Pelni pada Senin (19/10/2026) dini hari. Selain memiliki riwayat gagal ginjal yang mengharuskannya menjalani cuci darah secara rutin, ia juga disebut mengalami infeksi paru-paru.

Tak Ada Pesan Khusus Sebelum Meninggal

Di tengah duka kehilangan suaminya, Joanita mengaku Kamaruddin tidak sempat menyampaikan pesan khusus sebelum meninggal dunia.

Meski demikian, ia masih mengingat kebiasaan sederhana sang suami ketika anak-anak mereka datang menjenguk.
“Justru enggak ada pesan, jadi kita enggak bisa memprediksi. Paling kalau anak-anak datang, dia bilang, ‘sini peluk’,” tutur Joanita.

Saat berada di rumah, Kamaruddin juga kerap meminta istrinya tidur di sampingnya. Bagi Joanita, kebiasaan sederhana tersebut kini menjadi kenangan yang membekas setelah kepergian sang suami.

Di tengah kehilangan itu, keluarga tengah mempersiapkan prosesi penghormatan terakhir bagi Kamaruddin.
Jenazah Kamaruddin direncanakan disemayamkan di Rumah Duka Ukrida, Jakarta Barat, hingga Rabu (21/10/2026).

Setelah itu, jenazah akan diberangkatkan ke Siborong-borong, Sumatera Utara, pada Rabu malam untuk dimakamkan pada Kamis (22/10/2026) di Kabupaten Tapanuli Utara.***

RN/raffa christ manalu/red

Pos terkait