refubliknews.com – Jakarta || Koordinator Lembaga Advokasi Kajian Strategis Indonesia (LAKSI) Azmi Hidzaqi menegaskan tuduhan di media sosial soal proyek IT Badan Gizi Nasional (BGN) senilai Rp1,2 triliun fiktif adalah hoaks. Menurutnya, narasi itu tidak berdasar, mudah dipatahkan, dan sangat merugikan. Berdasarkan data resmi BGN dan hasil pemeriksaan obyektif, informasi tersebut dinyatakan tidak benar.
Azmi menjelaskan, anggaran Rp1,2 triliun dialokasikan untuk dua kebutuhan utama Sistem Informasi Pemenuhan Gizi Nasional (SIPGN). Pertama, pengembangan aplikasi SIPGN sekitar Rp550 miliar untuk modul sistem pengelolaan data gizi terintegrasi. Kedua, layanan managed service perangkat Internet of Things (IoT) sekitar Rp199 miliar guna memantau program gizi secara real-time di berbagai daerah. Seluruh proses, termasuk lewat Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE), disebut berjalan dalam koridor hukum.
Ia juga menyebut keterlibatan Peruri sebagai bagian langkah terintegrasi negara. Status Peruri sebagai GovTech Indonesia diatur dalam Perpres 82/2023, dan kini bertransformasi menjadi perusahaan teknologi dengan tingkat keamanan tinggi. BGN memastikan keamanan data jadi prioritas karena SIPGN mengelola data sensitif gizi masyarakat. “BGN memastikan tidak ada celah penyimpangan, karena ini menyangkut data gizi masyarakat luas,” tegas Azmi.
LAKSI mengecam keras pihak yang menyebarkan tuduhan sesat tersebut dan mendesak agar fitnah terhadap BGN dihentikan. “Narasi proyek fiktif dibangun di atas asumsi, tanpa verifikasi, dan bertentangan dengan data resmi. Faktanya tidak pernah terjadi,” ujarnya. Ia mengajak publik lebih bijak menyaring informasi, terutama yang beredar di media sosial dan tidak utuh.
RN/Raffa Christ Manalu/red






